
Ku buka mataku perlahan, samar terlihat wajah cantik dengan tatapan lembut penuh kasih sayang, "Bunda itukah dirimu?" Dari pancaran matanya dapat ku pastikan ia bangga telah melahirkanku. Dari lembut belainya dapat kurasakan betapa ia mencintaiku. Dari hangat pelukannya dapat terasa betapa ia ingin selalu lindungiku. "Bunda itukah dirimu?" *** Bising bangunkan lelapku, kulihat engkau menangis, seorang lelaki yang kau panggil papa memaki dan menamparmu sedangkan seorang wanita yang kau panggil mama hanya berdiri dihadapanmu dengan uraian air mata.Ku rasakan pilu hatimu, andai ku bisa bicara ingin ku membelamu, mendekap erat tubuhmu, mengusap bulir air matamu namun tubuh kecilku ta dapat lakukan itu. Hanya genggam erat jemariku pada telunjukmu berusaha sampaikan aku slalu ada untukmu bunda.Tangisanmu ta terbendung, pelukanmu semakin erat saat lelaki yang kau sebut papa tak henti-hentinya berteriak padamu, aku tak mengerti apa yang terjadi tapi aku ikut menangis bersamamu berharap kau mengerti aku rasakan semua sedihmu. *** Malam ini udara dingin sekali, tak biasanya kau mengajakku berjalan-jalan. Kau pakaikan aku jaket tebal, kau balutkan selimut hangat dibadanku. "Tahukah bunda bahwa semua itu tak sehangat pelukan sayangmu? Semua itu tak perlu kau berikan, karena aku tak butuhkan itu selama kau ada di sisiku." Kau berjalan dan terus berjalan, ku lihat peluh basahi dahimu, ku lihat lelah ada dimatamu, ku lihat ada pedih di raut wajahmu, " Ada apa bunda?" Ku sentuh bibirmu dengan jari mungilku, kau tersenyum manis sekali, senyum yang selalu dapat menenangkanku. Ah bunda, andai ku dapat berkata, ingin ku ungkap betapa aku mencintaimu.Kau berhenti di satu bangunan besar, menatapku begitu lama, begitu dalam, menciumi ku perlahan. Air matamu tiada berhenti gambarkan kesedihan mendalam. Aku memandangmu penuh heran, tak biasanya kau tampakan wajah demikian sedih, "Ada apa bunda? Apa aku nakal hingga kau begitu sedih? Maafkan aku bunda, aku berjanji tak kan menyusahkanmu." Kau letakanku bersama keranjangku, kau letakan semua mainan, pakaian dan susu disampingku bersama secarik kertas yang ntah apa isinya. Kau kecup aku sekali lagi, kau bisikan kata cinta yang biasa kau ucapkan setiap hari untukku. Kau belai aku perlahan, mengecup keningku sekali lagi, dan pergi. Aku menyadari kepergianmu, ku coba memanggilmu dengan tangisanku tapi kau ta menoleh.Ku coba menangis lebih keras lagi tapi kau semakin berlari, terus dan terus menjauh. "Bunda, apa yang terjadi? Kenapa bunda pergi meninggalkanku? Apa aku begitu merepotkanmu? Maaf bunda, aku janji tak akan rewel lagi, tapi kumohon kembalilah. Peluk aku lagi, dekap aku lagi, kecup keningku lagi, kumohon bunda, kumohon."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar